Jumat, 13 Oktober 2017

analgesik

Defenisi Analgetik
     Analgesik atau analgetik, adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu komponen obat yang kita minum biasanya mengandung analgesik atau pereda nyeri.
Obat saraf dan otot golongan analgesik atau obat yang dapat menghilangkan rasa sakit/ obat nyeri sedangkan obat antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh.
Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :
1.      Analgesik opioid / analgesik narkotika. Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.
1.      Obat yang berasal dari opium-morfin,
2.      Senyawa semisintetik morfin, dan
3.      Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.

Ada 3 golongan obat ini yaitu : 
Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dan banyak lagi.
Berikut contoh obat-obat analgesik antipiretik yang beredar di Indonesia :
1.      Paracetamol/acetaminophen Merupakan derivat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik.
Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong.
Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.
2.      Ibuprofen
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin.
Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.
3.      Asam mefenamat
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.


4.      Tramadol
Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol pelepasan lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang memerlukan waktu yang lama.
Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan, jangan minum dengan dosis lebih besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter.
Jangan minum tramadol lebih dari 300 mg sehari.
5.      Benorylate
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.
6.      Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan kanker.
Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik narkotika.
Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.
7.      Naproxen
Naproxen termasuk dalam golongan antiinflamasi nonsteroid. Naproxen bekerja dengan cara menurunkan hormon yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri di tubuh.
8.      Obat lainnya
Metamizol, Aspirin (Asetosal/ Asam asetil salisilat), Dypirone/Methampiron, Floctafenine, Novaminsulfonicum, dan Sufentanil.

Pertanyaan;
1.        Apa Perbedaan mekanisme obat analgetik sesuai dengan golongaannya ?

2.       Bagaiman mekanisme efek samping dari masing-masing obat analgesik sesuai dengan golongannya?

28 Komentar:

Pada 13 Oktober 2017 pukul 09.31 , Blogger ivolanesky mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

 
Pada 14 Oktober 2017 pukul 05.13 , Blogger caca arz mengatakan...

Bang kami mau nanya .. Untuk pemberian obat analgetik pada pasien itu biasanya di sandingin bersamaan obat apa ya? Kan kalo ke dokter biasanya dikasih 2 / 3 jenis obat dan dimakan bersamaan..

 
Pada 19 Oktober 2017 pukul 07.35 , Blogger Unknown mengatakan...

1. Mekanisme analgetik nonnarkotika :
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzimsiklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengandemikian mengurangi pembentukan mediator nyeri .
Mekanisme analgetik narkotika : berikatan dengan reseptor opioid pada SSP/CNS (yang belum ditempati endorfin, dalam keadaan normal reseptor opioid ditempati oleh ligand endogen.

 
Pada 20 Oktober 2017 pukul 08.49 , Blogger Chindiana Khutami mengatakan...

Hai bang. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1. Analgetik narkotik titik kerja nya terletak pada sistem saraf pusat sedangkan analgetik nonnarkotik bekerja pada sistem saraf perifer.

 
Pada 20 Oktober 2017 pukul 10.48 , Blogger Unknown mengatakan...

Saya akan mncba mnjasab prtanyaan nmr 1 dg sederhana. Analgetik trbagi 2 yaitu narkotik dan nonnarkotik. Utk narkotik sudah jelas bkerja di ssp krn mmpengaruhi kesadaran, sdngkan nonnarkotik bkrja dg berikatan dg reseptorny tnp mmpengaruhi kesadaran. Trmakasih..

 
Pada 20 Oktober 2017 pukul 10.48 , Blogger Unknown mengatakan...

Saya akan mncba mnjasab prtanyaan nmr 1 dg sederhana. Analgetik trbagi 2 yaitu narkotik dan nonnarkotik. Utk narkotik sudah jelas bkerja di ssp krn mmpengaruhi kesadaran, sdngkan nonnarkotik bkrja dg berikatan dg reseptorny tnp mmpengaruhi kesadaran. Trmakasih..

 
Pada 27 Oktober 2017 pukul 16.09 , Blogger ivolanesky mengatakan...

Saya mau menambahkan penjelasan singkat dari elma, analgetik non narkotik juga disebut NSAID dimana bekerja dg mrnghambat COX scr non selektif sehingga PG atau prostaglandin yg menyebabkan nyeri dapat berkurang, namun banyak efrk yg ditimbulkan dari penghambata. COX ini

 
Pada 28 Oktober 2017 pukul 23.46 , Blogger MALIZA.zhaaBlog mengatakan...

menurut saya perbedaannya terletak di car kerjanya yaitu alnagetik narkotik bekerja dengan cara mengurangi nyeri dari sedang sampai kuat dan bekerja di sistem saraf pusat. sedangkan analgetik non narkotik bekerja dengan cara mengurangi rasa nyeri dari nyeri ringan sampai sedang dan bekarja disistem safar ferifer.

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 06.34 , Blogger Unknown mengatakan...

1. Analgesik Nonopioid/Perifer (NON-OPIOID ANALGESICS)
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri. Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors.

Analgetik opioid mempunyai daya penghalang nyeri yang sangat kuat dengan titik kerja yang terletak di susunan syaraf pusat (SSP). Umumnya dapat mengurangi kesadaran dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Analgetik opioid ini merupakan pereda nyeri yang paling kuat dan sangat efektif untuk mengatasi nyeri yang hebat.

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 09.21 , Blogger Hesty Aryeni mengatakan...

menurut saya perbedaan obat analgetik tiap golongan yaitu
analgetika narkotik bekerja pada SSP dan efek nya kuat biasanya hanya digunakan untuk pengobataan pasca operasi sedangkan
analgetika non narkotik bekerja pada sistem saraf tepi atau perifer dimana efeknya lemah dan penggunaanya bisa kapan saja dan untuk membelinya tidak perlu resep dokter

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 10.47 , Blogger Alex mengatakan...

hai bang, saya juga akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1,menurut saya mekanisme obat analgetik sesuai dengan golongannya,yang pertama padda analgetik narkotik yaitu,berikatan dengan reseptor opioid pada SSP/CNS (yang belum ditempati endorfin, dalam keadaan normal reseptor opioid ditempati oleh ligand endogen.sedangkan pada analgetik non narkotik,Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzimsiklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengandemikian mengurangi pembentukan mediator nyeri .

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 12.00 , Blogger Fiolita Etsa Aurora mengatakan...

1. analgetik golongan narkotik memiliki kerja mnstimulasi ssp, dan memiliki efek ketergantungan dibandingkan analgetik non narkotik

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 16.46 , Blogger Yoan yulista hartiva mengatakan...

Mekanisme analgetik nonnarkotika: kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzimsiklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri .
Mekanisme analgetik narkotika : berikatan dengan reseptor opioid pada SSP/CNS (yang belum ditempati endorfin, dalam keadaan normal reseptor opioid ditempati oleh ligand endogen.

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 20.04 , Blogger Yasir mengatakan...

Utuk jawaban no 1.
mekanisme kerja analgetik perifer
ü Analgesik, analgetika non narkotika menimbulkan efek analgesic dengan cara menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada system saraf pusat yang mengkatalis biosintesis prostaglandin, seperti siklooksigenase, sehingga mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti bradikinin, histamine serotonin prostasiklin, prostaglandin, ionion hydrogen dan kalium, yang dapat merangsang raasa sakit secara mekanis atau kimiawi.
ü Antipiretik, analgetika non narkotik menimbulkan kerja antipiretik dengan meningkatkan eliminasi panas, pada penderita dengan suhu badan tinggi, dengan cara menimbukan dilatasi pembuluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat.pengaruh obat pada suhu badan normal relative kecil. Penurunan suhu tersebut adalah hasil kerja obat pad system saraf pusat yang meliatkan pusat control suhu dihipotalamus.
ü Antiradang, keradangan timbul karena pengaktifan fosfolipase A2, enzim yang menyebabkan pelepasan asam arachidonat yang kemudian diubah menjadi prostaglandin oleh prostaglandin sintetase. Analgetik non narkotik menimbulkan efek antiradang melali beberapa kemungkinan, antara lain adalah menghambat biosintesa dan pengeluaran prostaglandin dengan cara mengeblok secara terpulihkan enzim siklooksigenase sehingga menurunkan gejala peradangan.Mekanisme yang lain adalah menghambat enzim-enzim yang terlibat pada biosintesis mukopolisakarida dan glikoprotein, meningkatkan pergantian jaringan kolagen dengan memperbaiki jaringan penghubung dan mencegah pengeluaran enzim-enzim lisosom melalui stabilisasi membrane yang terkena radang. Sedangkan
Mekanisme kerja analgetika opioid
Terikatnya opioid pada reseptor menghasilkan pengurangan masuknya ion Ca2+ ke dalam sel, selain itu mengakibatkan pula hiperpolarisasi dengan meningkatkan masuknya ion K+ ke dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion kalsium dalam sel adalah terjadinya pengurangan terlepasnya dopamin, serotonin, dan peptida penghantar nyeri, seperti contohnya substansi P, dan mengakibatkan transmisi rangsang nyeri terhambat.

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 20.40 , Blogger Unknown mengatakan...

no. 1
PENGGOLONGAN ANALGETIK
Berdasarkan aksinya, obat-abat analgetik dibagi menjadi 2 golongan :
1. Analgesik nonopioid, dan
2. Analgesik opioid.
Kedua jenis analgetik ini berbeda dalam hal mekanisme dan target aksinya.
1. Analgesik Nonopioid/Perifer (NON-OPIOID ANALGESICS)
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors.
2. Analgetik opioid
Analgetik opoid merupakan golongan obat yang memiliki sifat seperti opium/morfin. Sifat dari analgesik opiad yaitu menimbulkan adiksi: habituasi dan ketergantungan fisik. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk mendapatkan analgesik ideal:
1. Potensi analgesik yg sama kuat dengan morfin
2. Tanpa bahaya adiksi

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 20.51 , Blogger LUSYYANA MAITRO YANI mengatakan...

Mekanisme kerja Analgetik Perifer
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors. Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lamMekanisme kerja Analgetik Opioid

Mekanisme kerja utamanya ialah dalam menghambat enzim sikloogsigenase dalam pembentukan prostaglandin yang dikaitkan dengan kerja analgetiknya dan efek sampingnya. Kebanyakan analgetik OAINS diduga bekerja diperifer . Efek analgetiknya telah kelihatan dalam waktu satu jam setelah pemberian per-oral. Sementara efek antiinflamasi OAINS telah tampak dalam waktu satu-dua minggu pemberian, sedangkan efek maksimalnya timbul berpariasi dari 1-4 minggu. Setelah pemberiannya peroral, kadar puncaknya NSAID didalam darah dicapai dalam waktu 1-3 jam setelah pemberian, penyerapannya umumnya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Volume distribusinya relatif kecil (< 0.2 L/kg) dan mempunyai ikatan dengan protein plasma yang tinggi biasanya (>95%). Waktu paruh eliminasinya untuk golongan derivat arylalkanot sekitar 2-5 jam, sementara waktu paruh indometasin sangat berpariasi diantara individu yang menggunakannya, sedangkan piroksikam mempunyai waktu paruh paling panjang (45 jam). dan dosis besar.

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 21.28 , Blogger Cici✨ mengatakan...

benar apa yang telah di sampaikan oleh komentator2 sebelumnya. jadi untuk analgetik narkotik efek samping yang paling dominan adalah sedatif, sedangkan untuk anletik non narkotik beberapa turunan bersifat hepatotoksik

 
Pada 30 Oktober 2017 pukul 02.57 , Blogger Unknown mengatakan...

efek samping dari morfin sebagai obat analgesik golongannya opioid antara lain:
Mengantuk
Pusing atau sakit kepala
Mual
Sembelit
Sulit buang air kecil
Gangguan tidur
Mulut terasa kering
Tubuh berkeringat

 
Pada 30 Oktober 2017 pukul 17.07 , Blogger Unknown mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

 
Pada 30 Oktober 2017 pukul 17.09 , Blogger Unknown mengatakan...



no 2 mekanisme efek samping analgetik non-narkotik. contohnya asam mefenamat adalah sbb.
Obat tersebut menghambat pembentukan cox 1 dan cox 2 secara bersamaan penghambatan cox2 bisa menyebabkan berkurangnya nyeri sedangkan penghambatan pada cox 1 menyebabkan terjadinya efek samping peptic ulcer,karena tidak terbentuk prostaglandin.

 
Pada 31 Oktober 2017 pukul 08.00 , Blogger Nisha Lastri mengatakan...

No 2
Selain menimbulkan efek terapi, AINS (dexametason, prednison, prednisolon) juga memiliki efek samping serupa, karena didasari oleh hambatan pada sistem biosintesis PG. Selain itu kebanyakan obat bersifat asam sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel yang bersifat asam misalnya di lambung, ginjal dan jaringan inflamasi. Jelas bahwa efek obat maupun efek sampingnya akan lebih nyata di tempat dengan kadar yang lebih tinggi. Secara umum AINS berpotensi menyebabkan efek samping pada 3 sistem organ yaitu saluran cerna, ginjal dan hati. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak peptik (tukak duodenum dan tukak lambung) yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna. Efek samping lain ialah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesis tromboksan A2 (TXA2) dengan akibat perpanjangan waktu perdarahan (Gunawan et.al., 2012:233-234).

Gunawan, S. G., R. S. Nafrialdi dan Elysabeth. 2012.Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 
Pada 1 November 2017 pukul 06.51 , Blogger Unknown mengatakan...

mekanisme analgetik non narkotik
Mekanisme Kerja
1. Analgesik. Analgetika non narkotik menimbulkan efek analgesik dengan cara menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalis biosintesis prostaglandin, seperti siklooksigenase, sehingga mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti baradikinin, histamin, serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion-ion hidrogen dan kalium, yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
2. Antipiretik. Analgetika non narkotik menimbulkan kerja antipiretik dengan meningkatkan eliminasi panas, pada penderita dengan suhu badan tinggi, dengan cara menimbulkan dilatasi buluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
3. Antiradang. Analgetika non narkotik menimbulkan efek antiradang dengan menghambat biosintesis dan pengeluaran prostaglandin dengan cara memblok secara terpulihkan enzim siklooksigenase sehingga menurunkan gejala peradangan (Siswandono dan Soekardjo, 2008).

 
Pada 1 November 2017 pukul 07.07 , Blogger Dika Z.Y. mengatakan...

Efek samping obat analgesik
Pada dosis biasa : gangguan lambung usus (mual, muntah, obstipasi), efek saraf pusat (kegelisahan, rasa kantuk, euphoria), dan lain-lain.
· Pada dosis tinggi : efek yang lebih berbahaya seperti sulit bernafas, tekanan darah turun, sirkulasi darah terganggu, koma, dan sampai pernafasan terhenti.
· Supresi susunan saraf pusat, misalnya sedasi, menekan pernafasan dan batuk, miosis, hypothermia, dan perubahan suasana jiwa (mood). Akibat stimulasi lagsung dari CTZ (Chemo Trigger Zone) timbul mual dam muntah. Pada dosis lebih tinggi mengakibatkan menurunnya aktifitas mental dan motoris.
· Saluran cerna : motilitas berkurang (obstipasi), kontraksi sfingter kandung empedu (kolik batu empedu).
· Saluran urogenital : retensi urin (karena naik nonus dari tonus dan sfingter kandung kemih), motilitas uterus berkurang (waktu persalinan diperpanjang).
· Saluran nafas: bronchkontriksi, penafasan menjadi lebih dangkal dan frekuensi turun.
· System sirkulasi : vasodilatasi, hypertensi dan bradycardia.
· Histamine-liberator: urticaria dan gatal-gatal, karena menstimulasi pelepasan histamine.
· Kebiasaan dengan resiko adiksi pada penggunaan lama. Bila terapi dihentikan dapat terjadi gejala abstinensia.

 
Pada 1 November 2017 pukul 09.07 , Blogger taridatin nugraheni mengatakan...

efek samping yang sering terjadi yaitu pendarahan dilambung. Sehingga sebaiknya hati - hati dalam pemakaiannya

 
Pada 1 November 2017 pukul 10.35 , Blogger anisa wasim mengatakan...

saya akan mencoba menjawab soal no. 2
Efek samping yang paling umum adalah gangguan lambung usus untuk salisilat, penghambat prostaglandin (NSAID) dan derivat-derivat pirazolino. Kerusakan darah untuk parasetamol, salisilat, derivat-derivat antranilat dan derivat-derivat pirazolinon. Kerusakan hati dan ginjal untuk untuk parasetamol dan penghambat prostaglandin (NSAID) serta reaksi alergi pada kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau dalam dosis tinggi. Oleh karena itu, penggunaan analgetik secara kontinyu tidak dianjurkan (Tjay dan Rahardja, 2002).

 
Pada 3 November 2017 pukul 11.29 , Blogger Ummi Isnaini mengatakan...

untuk pertanyaan no. 1.
PENGGOLONGAN ANALGETIK
Berdasarkan aksinya, obat-abat analgetik dibagi menjadi 2 golongan :
1. Analgesik nonopioid, dan
2. Analgesik opioid.
Kedua jenis analgetik ini berbeda dalam hal mekanisme dan target aksinya.
1. Analgesik Nonopioid/Perifer (NON-OPIOID ANALGESICS)
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors.
2. Analgetik opioid
Analgetik opoid merupakan golongan obat yang memiliki sifat seperti opium/morfin. Sifat dari analgesik opiad yaitu menimbulkan adiksi: habituasi dan ketergantungan fisik. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk mendapatkan analgesik ideal:
1. Potensi analgesik yg sama kuat dengan morfin
2. Tanpa bahaya adiks

 
Pada 3 November 2017 pukul 23.45 , Blogger Unknown mengatakan...

perbedaan mekanismenya adalah jika narkotik sampai ke sistem saraf pusat namun jika analgetik non narkotik menghambat cox

 
Pada 4 November 2017 pukul 04.31 , Blogger Fitri Khul Hoironi mengatakan...

Analgetik Narkotik
Analgetik narkotik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem saraf pusat secara selektif. Digunakan untuk mengurangi rasa sakit, yang moderat ataupun berat, seperti rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit kanker, serangan jantung akut, sesudah operasi, dan kolik usus atau ginjal. Analgetik narkotik sering pula digunakan untuk pramedikasi anestesi, bersama-sama dengan atropin, untuk mengontrol sekresi

Analgetik Non-narkotik
Analgetik non-narkotik digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang ringan sampai moderat, sehingga sering disebut analgetik ringan. Analgetik non-narkotik bekerja menghambat enzim siklooksigenase dalam rangka menekan sintesis prostaglandin yang berperan dalam stimulus nyeri dan demam. Karena itu kebanyakan analgetik non-narkotik juga bekerja antipiretik. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik).

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda