Kamis, 19 Oktober 2017

Antagonis H -1
·         Antagonis H-1 sering pula disebut anti-histamin klasik  atau antihistamin-H-1
·         Antagonis H-1 bermanfaat untuk mengurangi gejala alergi karena musim atau cuaca.
·         Selain itu antagonis H-1 juga digunakan sebagai antiemetik, antimabuk, anti parkinson, antibatuk, sedatif, antipsikotik, dan anestesi setempat 
·         Antagonis H-1 kurang efektif untuk pengobatan asma bronchial dan schock anafilaksis.
·         Antagonis H-1 menimbulkan efek potensiasi dengan alkohol dan obat penekan syaraf pusat.
·         Efek samping antagonis H-1 antara lain mengantuk, kelemahan otot, gangguan koordinasi pada waktu tidur, gelisah, tremor, iritasi, kejang dan sakit kepala.

Struktur umum senyawa antagonis H-1








Reseptor histamin
Senyawa dapat berinteraksi dengan reseptor bila jarak N dan N+ rantai samping:
  Reseptor H-1   =   4,55 Ao
   Reseptor H-2    =   3,6 Ao
Subtipe reseptor histamin
Protein reseptor dalam manusia:
Reseptor H-1 : 487 asam amino, 56 kd
Reseptor H-2 : 359 asam amino , 40 kd
Reseptor H-3 : 445 asam amino, 70 kd
Reseptor H-4 : 390 asam amino,
Aktivasi reseptor H-1 oleh histamine berakibat:
1. Penurunan tahanan vaskuler perifer
2. permeabilitas venula post kapiler naik.
3. Vasokonstriksi arteri koroner dan  basilaris
4. Bronkospasme
5. Konstraksi otot polos gastrointestinal
6. Rasa sakit dan gatal pd ujung syaraf kulit
7. Pada dosis tinggi menyebabkan pelepasan katekolamin dari medulla adrenalis.

Aktivasi reseptor H-2oleh histamin berakibat:
         1. Penurunan tahanan vaskuler perifer,
         2. Vasodilatasi kulit muka,
         3. Dilatasi arteri karotis dan  pulmonaris
         4. Frekuensi dan kontraksi jantung naik
         5. Otomatisitas atrium dan ventrikal naik
         6. Bronkodilatasi
         7. Sekresi asam lambung dan pepsin
         8. Hambatan terhadap Ig E-dependen
          degranulation dari pada basofil.
Aktivasi reseptor H-3 berakibat:
1. Penghambatan terhadap  pelepasan neurotrans-   mitter (histamin) dari neuron-neuron histaminergik di otak.
2.  Hambatan pelepasan transmitter dari saraf tepi dalam sistem saraf otonom dan pleksus mienterikus
3. Pengurangan influks kalsium didalam otak dan saraf perifer.

Reseptor H-4
 Reseptor H-4 diketemukan terutama dalam jaringan intestinal, limpa, dan sel-sel aktif immun ( seperti T cell, neutrophil dan eosinophil), “ .
Reseptor H-4  diduga mempunyai peranan penting dalam pengaturan fungsi immun.
Berdasar strukturnyaantihistami  digolongkan menjadi:
            A. Eter amino alkil (etanolamin eter)
            B. Etilen diamin
            C. Turunan Propilamin
            D.  Antihistamin cincin trisiklik


A. Eter amino alkil
   Senyawa-senyawa yang paling aktif mempunyai panjang rantai dua atomC. Kuarterinisasi nitrogen rantai  samping tidak selalu menghasilkan senyawayang kurang aktif. 
Golongan ini mempunyai aktivitas antikolinergik nyata, yang mempertinggi aksi pengeblokan reseptor H1  pada sekresi eksokrin.
Efek samping pemakaian eter amino alkil tersier adalah mengantuk, sehingga dipergunakan sebagai pem-bantu tidur pada obat tanpa resep.
Golongan ini dapat mengganggu penampilan tugas pasien yang memerlukan ketahanan mental
B. Etilendiamin.
Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal. 
Antihistamin tipe piperazin, imidazolin dan fenotiazin mengandung bagian etilendiamin.
Pada kebanyakan molekul obat adanya  nitrogen kelihatannya merupakan kondisi yang diperlukan untuk pembentukan garam yang stabil dengan asam mineral.
Gugus amino alifatik dalam etilen diamin cukup basis untuk pembentukan garam, akan tetapi atom N yang diikat pada cincin aromatik sangat kurang basis.
Elektron bebas pada nitrogen aril di delokalisasi oleh cincin aromatik.
Struktur resonansi yang menunjukkan delokalisasi elektron adalah sbb:


 Adanya penurunan kerapatan elektron pada N, menjadi kurang basis dan protonasi pada posisi ini berlangsung lambat.

C. Turunan Propilamin

        Anggota kelompok yang jenuh disebut sebagai feniramin yang merupakan molekul khiral.  Turunan tersubstitusi halogen dapat diputuskan dengan kristalisaasi dari garam yang dibentuk dengan d-asam tartrat. Antihistamin golongan ini merupakan antagonis H1yang paling aktif. Mereka tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini. Pada anggota yang tidak jenuh, sistem ikatan rangkap dua aromatik yang koplanar Ar – C = CH-CH2 - N  faktor penting untuk aktivitas antihistamin.
Gugus pirolidin adalah rantai samping amin tersier pada senyawa yang lebih aktif.
Pada anggota alkena (tidak jenuh), aktivitas antihistamin konfigurasi E berbeda sangat menyolok dibandingkan dengan  konfigurasi Z, sebagai contoh: E-Pirobutamin sekitar 165 kali lebih poten dari pada Z-Pirobutamin;  
E-Triprolidin aktivitasnya sekitar  1000 kali lebih poten dibandingkan dengan Z-triprolidin.
Perbedaan ini  dikarenakan jarak antara amina alifatik tersier dengan salah satu cincin aromatik sekitar 5-6 Ao, yang jarak tersebut diperlukan dalam ikatan sisi reseptor.



D. Antihistamin sistem cincin trisiklik
Dua gugus aromatik dalam klas antihistamin dapat dihubungkan satu sama lain melalui penambahan atom, misalnya heteroatom seperti S atau O,  atau melalui ikatan pendek dari satu atau dua karbon.
Struktur mereka dapat digambarkan sebagai berikut :
Antihistamin trisiklik pertama kali yang poten adalah fenotiazin ( Y = S dan X = N) dan mengandung dua atau tiga atom karbon menghubungkan rantai alkil diantara nitrogen fenotiazin dan amina alifatik.
Mereka berbeda dari turunan fenotiazin antipsikotik yang mana biasanya panjang rantai tiga atom karbon dan  tidak bercabang dan  hilangnya substitusi dalam cincin aromatik.
Disamping aktivitas antihistamin yang bermanfaat, kebanyakan mempunyai aksi  sedatif dan durasinya lama.
Penggunaan lain termasuk pengobatan nausea dan vomiting dihubungkan dengan anestesi dan untuk mabok perjalanan.

 Turunan  Fenotiazin
1.Prometazin Hidroklorida USP ;Phenergan HCl; (±)-10-(2-dimetil aminopropil)fenotiazin monohidroklorida
Garam ini berupa serbuk kristalin berupa kuning muda yang larut dalam air, alcohol  dan kloroform. Selain mempunyai aktivitas sebagai antihistamin, senyawa ini juga mempunyai efek antiemetik, serta memperkuat kerja  obat analgetik dan sedatif. Memperpanjang rantai samping dan substitusi gugus  lipofilik pada posisi 2 cincin aromatik menghasilkan senyawa dengan aktivitas antihistamin yang menurun dan menaikkan sifat psikoterapetik.
Dipakai juga untuk pemakaian lokal karena mempunyai  efek anestesi lokal.
2. Trimeprazin Tartrat USP ;  Temaril tartrat; (±) - 10-(3-dimetilamino-2-metilpropil) feno-tiazin tartrat
Berupa serbuk kristal putih  yang mudah larut dalam air dan alkohol. Aksi antihistaminnya sekitar 1,5 – 5 kali prometazin.  Selain itu juga mempunyai aksi antipruritik.
3. Metdilazin Hidroklorida USP; Tacaryl Hydro- chloride ;  (±)-10-[(1-metil 3 pirolidinil)  metil] fenotiazin monohidroklorida
Berupa serbuk kristalin kehitaman dengan bau sedikit karakteristik.  Aktivitasnya sama dengan metdilazin dan diberikan secara oral untuk efek antipruritik. Absorbsi obat dalam saluran cerna cepat, kadar darah tertinggi dicapai 30 menit setelah pemberian oral.
Pertanyaan:
1. dimana letak farmakophor dari struktur senyawa diatas ?
2. Apa nama lain dari reseptor H-1, H-2, H-3, H-4

3. apakah ada obat golongan fenotiazin yang aman bagi anak-anak? klau ada berikan contoh dan alasannya!

4. kebanyakan turunan fenotiazin tidak hanya berkerja sebagai antihistamin , berikan efek lain yang ditimbulkan dari obat turunan fenotiazin!
Saran:
1. berikanlah saran terkait materi antihidtamin diatas !




31 Komentar:

Pada 19 Oktober 2017 pukul 07.49 , Blogger Unknown mengatakan...

menurut saya nama lain dari
H-1 maksudnya mungkin(antagonis Reseptor H-1)
dan begitu seterusnya.

 
Pada 19 Oktober 2017 pukul 07.59 , Blogger Unknown mengatakan...

Menurut saya bg didi, letak farmakofor pada struktur diatas ada pada rantai yang terikat N

 
Pada 19 Oktober 2017 pukul 08.22 , Blogger Unknown mengatakan...

sepertinya saya sependapat dengan aida bahwa H-1 itu adalah reseptor histamin 1.
mohon koreksinya

 
Pada 19 Oktober 2017 pukul 08.37 , Blogger Unknown mengatakan...

2.antagonis histamin 1 ,antagonis histamin 2 ,antagonis histamin 3,antagonis histamin 4

 
Pada 20 Oktober 2017 pukul 09.16 , Blogger Vikrihidayatblogspot.com mengatakan...

nama lain dari H-1 maksudnya mungkin(antagonis Reseptor H-1)
dan begitu seterusnya. makasih

 
Pada 20 Oktober 2017 pukul 10.02 , Blogger Unknown mengatakan...

Hai didi
Sependapat dengan yg lainnya, yaitu reseptor histamin H1 dan seterusnya,dimana penjelasan nya sebagai berikut

Reseptor Histamin H1
Reseptor ini ditemukan di jaringan otot, endotelium, dan sistem syaraf pusat. Bila histamin berikatan dengan reseptor ini, maka akan mengakibatkan vasodilasi, bronkokonstriksi, nyeri, gatal pada kulit. Reseptor ini adalah reseptor histamin yang paling bertanggungjawab terhadap gejala alergi.

Reseptor Histamin H2
Ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam lambung.

Reseptor Histamin H3
Bila aktif, maka akan menyebabkan penurunan penglepasan neurotransmitter, seperti histamin, asetilkolin, norepinefrin, dan serotonin.

Reseptor Histamin H4
Paling banyak terdapat di sel basofil dan sumsum tulang. Juga ditemukan di kelenjar timus, usus halus, limfa, dan usus besar. Perannya sampai saat ini belum banyak diketahui.

 
Pada 20 Oktober 2017 pukul 10.45 , Blogger Unknown mengatakan...

Pada nmr 2 itu mungkin maksud anda antagonis H1, antagonis H2, dst. Mnurut saya blm ada penamaan yg spesifiknya.mhn maaf jika salah...

 
Pada 24 Oktober 2017 pukul 21.22 , Anonymous Anonim mengatakan...

Pertanyaan no.4
Efek samping antagonis H1 generasi I yang paling sering terjadi adalah sedasi. Selain itu, gejala SSP lain dapat terjadi, seperti pusing, tinitus, lesu, insomnia, dan tremor. Efek samping lain yang biasanya terjadi berupa gangguan saluran cerna, seperti hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare. Efek samping akibat efek muskarinik ini tidak terjadi pada antagonis H1 generasi II. Meskipun jarang, efek samping pada antagonis H1 generasi II dapat berupa torsades de pointes, yaitu terjadi perpanjangan interval QT. Hal ini biasanya terjadi karena gangguan obat, terutama terfenadin dan astemizol, dalam dosis takar lajak, adanya gangguan hepatik yang mengganggu sistem sitokrom P450, atau adanya interaksi dengan obat lain. Perpanjangan QT interval diduga terjadi karena obat-obat tersebut menghambat saluran K+. Selain itu, juga dapat terjadi dermatitis alergik karena penggunaan topikal. Pada keracunan akut antagonis H1 , dapat terjadi suatu sindrom beruapa adanya halusinogen, ataksia, tidak adanya koordinasi otot, dan kejang.

Daftar Pustaka
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 04.54 , Blogger Unknown mengatakan...

4. dapat menimbulkan efek sedasi dan peningkatan berat badan

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 07.38 , Blogger Lidya mengatakan...

untuk pertanyaan nomor 4. efeknya antara lain sedasi, pusing, tinitus, lesu, insomnia, tremor,hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare.

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 07.50 , Blogger Sholeha Annisa Martines mengatakan...

Saya ingin memberikan saran mengenai histamin. Menurut artikel yang saya baca yaitu Histamin adalah suatu alkaloid yang disimpan di dalam sel mast, dan menimbulkan berbagai proses faalan dan patologik. Histamin pada manusia adalah mediator penting untuk reaksi-reaksi alergi yang segera dan reaksi inflamasi, mempunyai peranan penting pada sekresi asam lambung, dan berfungsi sebagai neurotransmitter dan modulator. Efek histamin adalah pada organ sasaran, direk atau indirek terhadap aktivasi berbagai sel inflamasi dan sel efektor yang berperan pada penyakit alergi. Histamin berinteraksi dengan reseptor spesifik pada berbagai jaringan target. Reseptor histamin ditemukan pada sel basofil, sel mast, neutrofil, eosinofil, limfosit, makrofag, sel epitel dan endotel. Reseptor histamin dibagi menjadi histamin 1 (H1), histamin 2 (H2) dan histamin 3 (H3).

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 08.01 , Blogger Unknown mengatakan...

saya akan menjawab pertanyaan no 1, letak farmakofor untuk senyawa fenotiazin itu pada cincin aromaatik, ikatan nitrogen dan s

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 08.33 , Blogger Nurhasanah mengatakan...

nomor 4. efeknya antara lain sedasi, pusing, tinitus, lesu, insomnia, tremor,hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare.

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 08.39 , Blogger Unknown mengatakan...

no 3 : Klorpromazin, Flupenazin

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 09.00 , Blogger Unknown mengatakan...

No. 4 , fenotiazin juga digunakan sebagai terapi pengobatan skizofrenzia

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 11.00 , Blogger viska trimultia 07 mengatakan...

menurut saya jawaban no 1 letak farmakofor pada struktur diatas ada pada rantai yang terikat N

 
Pada 29 Oktober 2017 pukul 20.44 , Blogger Unknown mengatakan...

saya akan menjawab pertanyaan no 4, fenotiazin juga bisa digunakan sebagai antipsikotik

 
Pada 30 Oktober 2017 pukul 05.08 , Blogger Unknown mengatakan...

saya akan menambahkan Efek samping antagonis H1 generasi I yang paling sering terjadi adalah sedasi. Selain itu, gejala SSP lain dapat terjadi, seperti pusing, tinitus, lesu, insomnia, dan tremor. Efek samping lain yang biasanya terjadi berupa gangguan saluran cerna, seperti hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare. Efek samping akibat efek muskarinik ini tidak terjadi pada antagonis H1 generasi II. Meskipun jarang, efek samping pada antagonis H1 generasi II dapat berupa torsades de pointes, yaitu terjadi perpanjangan interval QT. Hal ini biasanya terjadi karena gangguan obat, terutama terfenadin dan astemizol, dalam dosis takar lajak, adanya gangguan hepatik yang mengganggu sistem sitokrom P450, atau adanya interaksi dengan obat lain.

 
Pada 30 Oktober 2017 pukul 22.28 , Blogger izzatur rahmi mengatakan...

pertanyaan no 2
nama lain dari H-1 adalah Antagonis reseptor H1 dan begitu seterusnya

 
Pada 30 Oktober 2017 pukul 22.35 , Blogger puputhidayatunjannah mengatakan...

1. Reseptor H1
Paling banyak berperan dalam alergi namun bisa juga vasodilatasi dan bronkokonstriksi (asma)

Lokasi: Terdapat di otak, bronkus, gastrointestinal tract, genitourinary system, sistem kardiovaskuler, adrenal medula, sel endotelial

Obat antagonis H1

Obat anti histamin H1 biasanya berkompetisi (bersifat kompetitif) dengan histamin untuk mengikat reseptor, untuk meringankan reaksi alergi seperti rhinitis dan urtikaria.

Generasi 1 : cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-2 jam dengan durasi 4-6 jam. Efek sedatif masih tinggi
contoh: CTM, bromfeniram, prometazin, dimenhidrinat (bisa untuk obat mabuk jg)

Generasi 2: cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-3 jam, dengan durasi bervariasi dari 4-24 jam. Efek sedatif minimal
contoh: fexofenadin, loratadin, astemizol, cetirizin

Generasi 3: merupakan pengembangan dari generasi 2. Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan untuk memperoleh profil antihistamin yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping lebih minimal.
contoh: desloratadin dan levocetirizin

Semakin tinggi generasinya durasi aksinya makin panjang dengan efek sedatif (ngantuk) semakin minimal

Efek samping obat antagonis H1 selain sedatif (menimbulkan ngantuk) juga atropine-like reactions contohnya mulut kering dan konstipasi.

2. Reseptor H2
Berlokasi di sel parietal lambung yang berperan dalam sekresi asam lambung



Cara kerjanya adalah dengan mengikat reseptor H2 pada membran sel parietal dan mencegah histamin menstimulasi sekresi asam lambung.

Obat antagonis H2: cimetidine, ranitidine, famotidine

3. Reseptor H3
Terdapat di sistem syaraf, mengatur produksi dan pelepasan histamin pada susunan saraf pusat.

Tidak seperti antagonis H1 yang menimbulkan efek sedatif, antagonis H3 menyebabkan efek stimulant dan nootropic dan sedang diteliti sebagai obat Alzheimer

Obat: Imetit, Immepip, clobenpropit, lodoproxyfan

4. Reseptor H4
Dijumpai pada sel-sel inflammatory (eusinofil, neutrofil, mononukleosit). diduga terlibat dalam alergi bersinergi dengan reseptor H1

Masih merupakan target baru obat anti inflamasi alergi karena dengan penghambatan reseptor H4 maka dapat mengobati alergi dan asma (sama dengan reseptor H1)

 
Pada 31 Oktober 2017 pukul 15.42 , Blogger Unknown mengatakan...

Pertanyaan nomor 4.
efeknya antara lain sedasi, pusing, tinitus, lesu, insomnia, tremor,hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare.

 
Pada 1 November 2017 pukul 00.52 , Blogger syaliewulandari mengatakan...

1. Reseptor H1
Paling banyak berperan dalam alergi namun bisa juga vasodilatasi dan bronkokonstriksi (asma)

Lokasi: Terdapat di otak, bronkus, gastrointestinal tract, genitourinary system, sistem kardiovaskuler, adrenal medula, sel endotelial

Obat antagonis H1

Obat anti histamin H1 biasanya berkompetisi (bersifat kompetitif) dengan histamin untuk mengikat reseptor, untuk meringankan reaksi alergi seperti rhinitis dan urtikaria.

Generasi 1 : cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-2 jam dengan durasi 4-6 jam. Efek sedatif masih tinggi
contoh: CTM, bromfeniram, prometazin, dimenhidrinat (bisa untuk obat mabuk jg)

Generasi 2: cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-3 jam, dengan durasi bervariasi dari 4-24 jam. Efek sedatif minimal
contoh: fexofenadin, loratadin, astemizol, cetirizin

Generasi 3: merupakan pengembangan dari generasi 2. Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan untuk memperoleh profil antihistamin yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping lebih minimal.
contoh: desloratadin dan levocetirizin

Semakin tinggi generasinya durasi aksinya makin panjang dengan efek sedatif (ngantuk) semakin minimal

Efek samping obat antagonis H1 selain sedatif (menimbulkan ngantuk) juga atropine-like reactions contohnya mulut kering dan konstipasi.

2. Reseptor H2
Berlokasi di sel parietal lambung yang berperan dalam sekresi asam lambung



Cara kerjanya adalah dengan mengikat reseptor H2 pada membran sel parietal dan mencegah histamin menstimulasi sekresi asam lambung.

Obat antagonis H2: cimetidine, ranitidine, famotidine

3. Reseptor H3
Terdapat di sistem syaraf, mengatur produksi dan pelepasan histamin pada susunan saraf pusat.

Tidak seperti antagonis H1 yang menimbulkan efek sedatif, antagonis H3 menyebabkan efek stimulant dan nootropic dan sedang diteliti sebagai obat Alzheimer

Obat: Imetit, Immepip, clobenpropit, lodoproxyfan

4. Reseptor H4
Dijumpai pada sel-sel inflammatory (eusinofil, neutrofil, mononukleosit). diduga terlibat dalam alergi bersinergi dengan reseptor H1

 
Pada 1 November 2017 pukul 04.07 , Blogger Unknown mengatakan...

baiklah saya akan menjawab pertanyaan no 2. nama lain atau nama spesifik dari H1- H4 sampai sekrang belum ada.

 
Pada 1 November 2017 pukul 04.29 , Blogger Unknown mengatakan...

no 4.
efeknya antara lain sedasi, pusing, tinitus, lesu, insomnia, tremor,hilangnya nafsu makan, mual, muntah

 
Pada 1 November 2017 pukul 07.04 , Blogger Unknown mengatakan...

Iya saya sependapat dengan saudara nola dimana efeknya antara lain sedasi, pusinh, tunitus, lesu, insomnia dll

 
Pada 1 November 2017 pukul 08.42 , Blogger Unknown mengatakan...

4. urunan fenotiazin digunakanuntuk pengobatan gangguan mental dan emosi yang moderat sampai berat, sepertiskizofrenia, paranoia, psikoneurosis (ketegangan dan kecemasan) serta psikosisakut dan kroniJt. Banyak turunan fenotiazin mempunyai aktivitas antiemetik,simpatolitik atau antikolinergik. Turunan fenotiazin juga mengadakan potensiasidengan obat-obat sedatif-hipnotika, analgetika narkotik atau anestetika sistemik.

 
Pada 2 November 2017 pukul 20.40 , Blogger yupi mengatakan...

saya akan menambahkan jawaban no 4
seprti hal nya turunan fenotiazin obat klorpromazin yaitu efek Antagonis reseptor dopamin D2 pada otak, menekan pelepasan hormon hipotalamus dan hipofisis

 
Pada 3 November 2017 pukul 07.31 , Blogger Unknown mengatakan...

Saya akan menjawab pertanyan no. 4 fenotiazin juga dapat bekerja sbg penghanbat reseptor dopamin sehingga dpt digunakan sbg antipsikotik

 
Pada 4 November 2017 pukul 05.48 , Blogger Unknown mengatakan...

Bang kami bantu jawab no 4 ya bang, berdaaarkan sumber yg kamo dapatkan turunan fenotiazin juga dapat digunakan sebagai antiemetik dan antipsikosis.

 
Pada 4 November 2017 pukul 05.55 , Blogger Unknown mengatakan...

Efek samping antagonis H1 generasi I yang paling sering terjadi adalah sedasi. Selain itu, gejala SSP lain dapat terjadi, seperti pusing, tinitus, lesu, insomnia, dan tremor. Efek samping lain yang biasanya terjadi berupa gangguan saluran cerna, seperti hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare. Efek samping akibat efek muskarinik ini tidak terjadi pada antagonis H1 generasi II. Meskipun jarang, efek samping pada antagonis H1 generasi II dapat berupa torsades de pointes, yaitu terjadi perpanjangan interval QT. Hal ini biasanya terjadi karena gangguan obat, terutama terfenadin dan astemizol, dalam dosis takar lajak, adanya gangguan hepatik yang mengganggu sistem sitokrom P450, atau adanya interaksi dengan obat lain.

 
Pada 4 November 2017 pukul 08.16 , Blogger Unknown mengatakan...

untuk nomer 4
efek samping berupa gejala-gejala ekstrapiramidal dengan efek seperti pada penyakit Parkinson. Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan hipotensi, agranulisitosis, dermatitis, penyakit kuning, perubahan mata, dan kulit serta sensitive terhadap cahaya. Contoh turunan fenotiazin yang terutama diguanakn sebagai antipsikosis adalah promazin, klorpromazin, trifluoperazin, teoridazin, mesorizadin, perazin (Taxilan), butaperazin, Fluferazin, asetofenazin dan carfenazin.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda