Antagonis H -1
·
Antagonis
H-1 sering pula disebut anti-histamin klasik
atau antihistamin-H-1
·
Antagonis
H-1 bermanfaat untuk mengurangi gejala alergi karena musim atau cuaca.
·
Selain itu antagonis H-1 juga digunakan
sebagai antiemetik, antimabuk, anti parkinson, antibatuk, sedatif,
antipsikotik, dan anestesi setempat
·
Antagonis H-1 kurang efektif untuk
pengobatan asma bronchial dan schock anafilaksis.
·
Antagonis H-1 menimbulkan efek
potensiasi dengan alkohol dan obat penekan syaraf pusat.
·
Efek samping antagonis H-1 antara
lain mengantuk, kelemahan otot, gangguan koordinasi pada waktu tidur, gelisah,
tremor, iritasi, kejang dan sakit kepala.
Struktur umum senyawa antagonis H-1
Reseptor histamin
Senyawa dapat berinteraksi dengan reseptor
bila jarak N dan N+ rantai samping:
Reseptor H-1 = 4,55 Ao
Reseptor H-2 =
3,6 Ao
Subtipe reseptor histamin
Protein reseptor dalam manusia:
Reseptor H-1 : 487 asam amino, 56 kd
Reseptor H-2 : 359 asam amino , 40 kd
Reseptor H-3 : 445 asam amino, 70 kd
Reseptor H-4 : 390 asam amino,
Aktivasi reseptor H-1 oleh histamine berakibat:
1. Penurunan tahanan vaskuler perifer
2. permeabilitas venula post kapiler naik.
3. Vasokonstriksi arteri koroner dan basilaris
4. Bronkospasme
5. Konstraksi otot polos gastrointestinal
6. Rasa sakit dan gatal pd ujung syaraf
kulit
7. Pada dosis tinggi menyebabkan pelepasan
katekolamin dari medulla adrenalis.
Aktivasi reseptor H-2oleh
histamin berakibat:
1. Penurunan tahanan vaskuler perifer,
2. Vasodilatasi kulit muka,
3. Dilatasi arteri karotis dan pulmonaris
4. Frekuensi dan kontraksi jantung naik
5. Otomatisitas atrium dan ventrikal
naik
6. Bronkodilatasi
7. Sekresi asam lambung dan pepsin
8. Hambatan terhadap Ig E-dependen
degranulation dari pada basofil.
Aktivasi
reseptor H-3 berakibat:
1. Penghambatan
terhadap pelepasan neurotrans- mitter (histamin) dari neuron-neuron histaminergik
di otak.
2. Hambatan
pelepasan transmitter dari saraf tepi dalam sistem saraf otonom dan pleksus
mienterikus
3.
Pengurangan influks kalsium didalam otak dan saraf perifer.
Reseptor H-4
Reseptor H-4 diketemukan terutama dalam jaringan intestinal,
limpa, dan sel-sel aktif immun ( seperti T cell, neutrophil dan eosinophil), “
.
Reseptor H-4 diduga mempunyai peranan penting dalam
pengaturan fungsi immun.
Berdasar strukturnyaantihistami digolongkan menjadi:
A.
Eter amino alkil (etanolamin eter)
B. Etilen
diamin
C.
Turunan Propilamin
D. Antihistamin cincin trisiklik
A.
Eter amino alkil
Senyawa-senyawa yang paling aktif mempunyai panjang rantai dua atomC. Kuarterinisasi
nitrogen rantai samping tidak selalu
menghasilkan senyawayang kurang aktif.
Golongan ini
mempunyai aktivitas antikolinergik nyata, yang mempertinggi aksi pengeblokan
reseptor H1 pada sekresi eksokrin.
Efek samping
pemakaian eter amino alkil tersier adalah mengantuk, sehingga dipergunakan
sebagai pem-bantu tidur pada obat tanpa resep.
Golongan ini dapat
mengganggu penampilan tugas pasien yang memerlukan ketahanan mental
B. Etilendiamin.
Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro
intestinal.
Antihistamin tipe piperazin, imidazolin dan fenotiazin mengandung
bagian etilendiamin.
Pada kebanyakan molekul obat
adanya nitrogen kelihatannya merupakan
kondisi yang diperlukan untuk pembentukan garam yang stabil dengan asam
mineral.
Gugus amino alifatik dalam etilen
diamin cukup basis untuk pembentukan garam, akan tetapi atom N yang diikat pada
cincin aromatik sangat kurang basis.
Elektron bebas pada nitrogen aril di delokalisasi oleh cincin aromatik.
Struktur resonansi yang menunjukkan delokalisasi elektron adalah sbb:
Adanya penurunan kerapatan
elektron pada N, menjadi kurang basis dan protonasi pada posisi ini berlangsung
lambat.
C. Turunan Propilamin
Anggota kelompok yang jenuh disebut
sebagai feniramin yang merupakan molekul khiral. Turunan tersubstitusi halogen dapat diputuskan dengan kristalisaasi
dari garam yang dibentuk dengan d-asam tartrat. Antihistamin golongan ini merupakan antagonis H1yang
paling aktif.
Mereka tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa pasien mengalami
efek ini. Pada anggota yang tidak jenuh, sistem ikatan rangkap dua aromatik
yang koplanar Ar – C = CH-CH2 - N faktor penting untuk aktivitas antihistamin.
Gugus pirolidin
adalah rantai samping amin tersier pada senyawa yang lebih aktif.
Pada anggota alkena
(tidak jenuh), aktivitas antihistamin konfigurasi E berbeda sangat menyolok
dibandingkan dengan konfigurasi Z,
sebagai contoh: E-Pirobutamin sekitar 165 kali lebih poten dari pada
Z-Pirobutamin;
E-Triprolidin
aktivitasnya sekitar 1000 kali lebih
poten dibandingkan dengan Z-triprolidin.
Perbedaan ini dikarenakan jarak antara amina alifatik
tersier dengan salah satu cincin aromatik sekitar 5-6 Ao,
yang jarak tersebut diperlukan dalam ikatan sisi reseptor.
D. Antihistamin
sistem cincin trisiklik
Dua gugus aromatik
dalam klas antihistamin dapat dihubungkan satu sama lain melalui penambahan
atom, misalnya heteroatom seperti S atau O,
atau melalui ikatan pendek dari satu atau dua karbon.
Struktur mereka dapat
digambarkan sebagai berikut :
Antihistamin
trisiklik pertama kali yang poten adalah fenotiazin ( Y = S dan X = N) dan
mengandung dua atau tiga atom karbon menghubungkan rantai alkil diantara
nitrogen fenotiazin dan amina alifatik.
Mereka berbeda dari
turunan fenotiazin antipsikotik yang mana biasanya panjang rantai tiga atom
karbon dan tidak bercabang dan hilangnya substitusi dalam cincin aromatik.
Disamping aktivitas
antihistamin yang bermanfaat, kebanyakan mempunyai aksi sedatif dan durasinya lama.
Penggunaan lain
termasuk pengobatan nausea dan vomiting dihubungkan dengan anestesi dan untuk
mabok perjalanan.
1.Prometazin Hidroklorida USP
;Phenergan HCl; (±)-10-(2-dimetil aminopropil)fenotiazin
monohidroklorida
Garam ini berupa
serbuk kristalin berupa kuning muda yang larut dalam air, alcohol dan kloroform. Selain mempunyai aktivitas
sebagai antihistamin, senyawa ini juga mempunyai efek antiemetik, serta
memperkuat kerja obat analgetik dan sedatif. Memperpanjang rantai samping dan substitusi gugus lipofilik pada posisi 2 cincin aromatik
menghasilkan senyawa dengan aktivitas antihistamin yang menurun dan menaikkan
sifat psikoterapetik.
Dipakai juga untuk
pemakaian lokal karena mempunyai efek anestesi
lokal.
2. Trimeprazin Tartrat USP ;
Temaril tartrat; (±) - 10-(3-dimetilamino-2-metilpropil) feno-tiazin tartrat
Berupa serbuk kristal putih yang
mudah larut dalam air dan alkohol. Aksi antihistaminnya sekitar 1,5 – 5 kali
prometazin. Selain itu juga mempunyai aksi
antipruritik.
3. Metdilazin Hidroklorida USP; Tacaryl Hydro- chloride
; (±)-10-[(1-metil 3 pirolidinil) metil] fenotiazin monohidroklorida
Berupa serbuk
kristalin kehitaman dengan bau sedikit karakteristik. Aktivitasnya sama
dengan metdilazin dan diberikan secara oral untuk efek antipruritik. Absorbsi
obat dalam saluran cerna cepat, kadar darah tertinggi dicapai 30 menit setelah
pemberian oral.
Pertanyaan:
1. dimana letak farmakophor dari
struktur senyawa diatas ?
2. Apa nama lain dari reseptor
H-1, H-2, H-3, H-4
3. apakah ada obat golongan fenotiazin yang aman bagi anak-anak? klau ada berikan contoh dan alasannya!
4. kebanyakan turunan fenotiazin tidak hanya berkerja sebagai antihistamin , berikan efek lain yang ditimbulkan dari obat turunan fenotiazin!
3. apakah ada obat golongan fenotiazin yang aman bagi anak-anak? klau ada berikan contoh dan alasannya!
4. kebanyakan turunan fenotiazin tidak hanya berkerja sebagai antihistamin , berikan efek lain yang ditimbulkan dari obat turunan fenotiazin!
Saran:
1. berikanlah saran terkait
materi antihidtamin diatas !
